Monday, December 20, 2004

aku telah tak lagi setia

        non, aku harus mengatakan ini: aku telah tak setia padamu.
        aku mengaku, bukan agar kau memaafkanku, melainkan karena aku tak mampu lagi menahan kesakitan-kebohongan ini. semula, aku merasa mampu menyembunyikan ini padamu. tapi, tidak malam ini, ketika kamu mengikhlaskan diri tidur di pangkuanku. aku begitu ngilu, karena beberapa malam lalu, bukan kau yang rebah di situ.
        kamu ingat ketika minggu lalu, aku pamit ke luar kota untuk rapat akhir tahun? ya, semua sudah kuceritakan padamu, kecuali yang ini: tentang vita.
        kau tidak mengenalnya, aku juga, sampai malam itu. tapi, sesungguhnya aku tahu namanya, dia sering berkelebat di depan kantorku, melempar senyum, dan sapa tanpa suara. kadang, kami juga berpapasan di lorong menuju kamar mandi, dan saling menganggukkan kepala. dia sekretaris direktur, aku cuma pekerja biasa: mungkin itulah yang membuat kami mengenal tanpa bahasa.
        tapi malam itu, ketika rapat telah usai, dan aku bergegas ke kamar, dia tiba-tiba menggapaiku. "mau menemani aku minum?" aku melengak, dan menutupinya dengan anggukan. aku mengikutinya, tidak menuju coffee shop, tapi ke kamarnya. Ia membuka pintu, meminta aku masuk --yang mulai gugup-- lalu menggeser pintu belakang, kami tiba di teras yang berhadapan dengan kolam. Ada tiga kursi berbantal busa, satu panjang, dan sebuah meja jati bundar. ketika aku duduk dan dia masuk, air kolam bercipratan, ditindih hujan. vita muncul dengan busana yang telah berganti, kaos tanpa lengan, celana panjang gombrang, dan senampan minuman ringan. "aku telah memesannya dari tadi, saat kusadari aku tak mungkin menghabiskannya sendiri," dia menjelaskan tanpa kuminta.
        baru sekarang aku melihatnya dari dekat. rambutnya yang diikat membukakan rahasia, telinga kirinya bertindik tiga. "lucu juga, kita sering jumpa, tapi baru ini kali berbicara."
        non, entah kenapa, tiba-tiba percakapan kami ngalir saja, seperti tirisan hujan yang merintiki kakiku. ia bercerita banyak hal, riang, dan aku mengimbanginya dengan mengunyah kentang goreng yang telah didinginkan angin. ketika tempias kian keras, refleks aku dan dia beringsut, bertemu di dua sudut kursi panjang itu: kami ngakak bersama. ia ungkapkan kekagumannya pada the davinci code, romantisme neruda, dan mimpinya untuk ziarah ke venesia. aku menggelengkan kepala, kagum pada bacaannya, dan merasa tak mampu mengimbangi. waktu ia bertanya apa yang kusuka, kupilih cara yang paling aman untuk tak terlihat bodoh: kuceritakan biografi hujan. kukarangkan persekutuan hujan dan kabut, yang memenjarai aku dan dia, di sebuah teras hotel yang lindap, di salatiga senyap. dan ia tertawa. "ia, kau bisa membuat sesuatu yang sederhana menjadi berharga," katanya sekali lagi, menunjukkan padaku bahwa lidahnya pandai sekali menyenangkan lawan bicara.
        non, aku terlambat menghindar, atau bahkan tak menyadari, saat tiba-tiba ia menyurukkan kepalanya ke pahaku. "sudah lama sekali aku kehilangan kenyamanan bersama seseorang," bisiknya, dengan mata yang tertutup. aku hanya diam, mencoba nentramkan debur dada. aku akan malu jika dia tahu aku gugup dengan kelakuannya itu. tapi, pandangan dari atas sini, yang memperlihatkan putih pangkal lengannya, jenjang leher dan gerak dada saat ia berkali-kali menengadahkan kepala yang menggerinjali pahaku: memanaskan wajahku. gugup berganti jadi berahi. dan tanganku yang tak setia ini, entah bagaimana, telah dengan nyaman mengelusi anak rambut di sisi telinganya. dan saat ia memejamkan mata, refleks aku menunduk dan menggoreskan ciuman pada dahinya. dia kurasakan menggumamkan sesuatu, dan lelaki bangsat ini, merasa itu seakan sinyal untuk dapat berbuat lebih: aku lalu mencucup batang bibirnya, pelan, lebih sebagai cobaan. tapi, bibir kami ibarat dua kutub magnet berseberangan, yang kemerunyuk beradu untuk saling mengalahkan, melekapkan bara lidah di langit-langit terdalam. ciumanku --atau ciumannya-- lepas saat dada kami panas terengah-engah kehilangan napas.
        lalu, kesadaran serasa memasukiku, dan mungkin dia, yang tiba-tiba kurasakan tubuhnya mengaku. kami terdiam. hening. begitu lama, mungkin sama menunggu, siapa yang akan bicara lebih dulu. aku membuang napas, ke arah hujan yang telah timpas. "vita, maaf..." kalimatku diberhentikan gapaian jarinya yang menjajari bibirku. ia lalu bangkit, menatap, menggelengkan kepala, "aku yang mengingininya..."
        kami diam lagi. saling membuang tatapan. hanya napas kami yang terasa masih menderu meruapkan kabut. "ia, sudah malam. sebaiknya kamu pulang. aku takut, kita nanti melakukan sesuatu yang aku dan kamu ingini, tapi akhirnya kita sesali." ia menarik tanganku, yang seperti kehilangan tenaga, dan hanya mengikutkannya saja. Di depan pintu, aku bahkan kehilangan suara untuk pamitan. "kamarmu ke arah kanan, jangan salah," godanya, "thanks atas ciuman tadi, lidah kamu manis," bisiknya, saat aku bergerak.
        sampai di kamar, gelisah menyelimutiku. ya, aku ingat kamu, non. aku tak tahu, mengapa bisa melakukan hal itu. situasikah, romantisme yang kami ciptakan, atau batin yang kesepian? ah, aku baru dua hari tak bersamamu, dan menyalahkan kesepian adalah kepengecutan yang mungkin terlalu lucu. merebahkan diri, pikiranku ngembara, dadaku masih bara.
        non, barangkali aku cuma lelaki yang butuh petualangan, atau lelaki yang tak bisa melihat kesempatan lewat begitu saja. atau, barangkali, ahh-, aku cuma haus, dan juga rakus.

******


        non, aku tak menceritakan hal itu padamu, karena kuyakin, kami hanya dua orang kesepian yang butuh petualangan. tak ada kontak hati, hanya ciuman --yang meski panjang erang-- tapi tak mengabadikan ingatan. aku percaya, kisah itu akan hilang, seperti berkas bintang dikalahkan malam. dan aku akan melenggang, riang, tanpa beban. kamu tak perlu tahu, karena aku tak menggadaikan apa pun untuk ciuman itu. tak ada hakmu yang kurasakan lepas, tak ada bagian dari dirimu yang terenggut dan terampas.
        tapi, tadi pagi, saat aku dan vita berpapasan di lorong kamar mandi itu, seperti berpuluh kali di hari-hari yang lalu, kurasakan situasi yang berbeda. semuanya kembali membayang jelas, dan menguat: bibir panas, erang kurang. dadaku berdebaran, kakiku macet beberapa saat. kami bertatapan, tegang, dan mulut dirampas kebisuan. aku serasa disetrum jutaan arus, gemetar, dan gagal mengucapkan satu kata pun. detik papasan itu kurasakan demikian lama, dan berlalu dengan dadaku yang sesap. saat tiba di kamar mandi, kuraupkan air ke wajah, tapi geletar itu tak juga punah. aku seperti kerupuk yang dicemplungkan ke penggorengan, mekar terbakar! lalu, bagai kesurupan, aku kembali ke ruangaku, seperti berlari. kuhubungi operator, kutanyakan ekstensi nomornya. dan ketika dia mengangkat teleponku, saat telingaku meyakini suaranya, tuhan... dadaku serasa pecah, aku tersedak. hanya napas kerasku yang menderui horn itu. tapi, dia tampaknya tahu, aku yang di seberang sini. "ia, ini kamu kan? ini kamu kan?"
        Tuhan....
        Dengan terbata-bata, aku hanya bisa melahirkan satu pengakuan, "v-i-t-a, mmuungkk..in in..i gila, tappiii akkku kangg..en kammu..uuu...." ohhh-... lalu telepon kututup. kurasakan kelegaan yang luar biasa, sekaligus takjub dengan apa yang telah kulakukan. saat telepon berdering, dan kuangkat, aku hanya mendengar dia berkata, "ia, aku juga, aku juga...."
        dan tubuhku merosot di kursi, kehilangan daya, habis tenaga. tapi, aku bahagia.

******


        non, kini semua telah kuceritakan: aku tak lagi setia padamu. ada seseorang, yang seperti kamu, juga kukangeni. ada seseorang, yang seperti kamu, juga mulai merampas hari-hariku. sungguh, demi tuhan, aku tak ingin kehilangan kamu, tak pernah ingin! tapi, ohh--, aku juga tak ingin rasa ini meninggalkanku, rasa yang membuat dadaku penuh. aku menceritakan ini, karena tak ingin cidera janji, karena kita telah jujur, akan menghadapi apa pun bersama-sama, tanpa rahasia, saling jaga, saling menguati, terutama di saat-saat salah seorang dari kita menyadari, ada yang telah mulai tak setia.