Tuesday, November 30, 2004

bukan bayang sempurna

        kalau kamu sekarang berada di semarang, pasti langit yang menyungkupimu adalah arakan jelaga hitam, dengan angin keras, yang memaksa beberapa pohon kecil harus bersujud. dan jika kau lemparkan mata ke utara, barisan burung yang bergerak-berjajar, seperti membawa kabar: gerimis akan menebar.
        semarang, sore ini, atau malam nanti, tampaknya akan hujan lagi. dan aku harus bersiap-siap memanaskan imaji, bersumbu segelas kopi.
        kamu tahu apa yang biasa aku lakukan kalau hujan begini? ya, membuka e-mail dan membaca sapa-sapa sahabat. biasanya, membaca surat dan kabar dari mereka, ada rasa hangat yang menjalari tubuhku, membuat dingin yang diberikan hujan itu, menguap, hilang. rasa hangat itu, yang lahir dari tatahan kalimat --mungkin pendek, sering panjang, kadang sekadar sapa, acap hanya gurauan kecil--, entah kenapa begitu ajaib, bisa mendatangkan serumpun kedekatan, sejenis hasrat, semacam kepedulian: perasaan bahwa saat itu aku tidak sendiri. dan perasaan tak sendiri, ditemani, apalagi dalam hujan dan dingin begini, ternyata segar dan menyenangkan.
        kamu tahu mengapa aku bisa begitu merasa hangat punya teman seperti mereka? ya, betul, itu karena kami punya alasan yang sama saat memintal pertemanan. seperti yang kukatakan padamu, alasan kita untuk bersama seseorang bukanlah karena kita telah memahaminya, melainkan hanya untuk mencoba memahaminya. telah memahami, bagiku: acap lebih terdengar seperti penaklukkan. itulah sebabnya, banyak orang yang ketika merasa tak dapat memahami orang lain, ia menghindar, ia memutuskan kebersamaan. "aku lelah bersamamu, aku tak pernah dapat memahamimu."
        dengan teman-teman-ajaibku itu, kami tak pernah merasa saling menaklukkan, sehingga tak pernah merasa lelah. untuk berteman, kami tak harus saling paham. ketakmengertian, ketaksepahaman, ketertutupan, rahasia, kami letakkan sama derajatnya dengan keterbukaan dan saling berbagi. semula memang ada perasaan kecewa, "aku temannya, mengapa dia tak terbuka? apa dia takut aku tak mampu menjaga rahasia?" ya, praduga semacam itu memang acap datang, dulu. tapi, lama kami menyadari, rasa kecewa sejenis itu adalah tinggalan dari masa kanak, yang selalu ingin mendapatkan apa yang orang lain juga dapatkan.
        kami percaya, setiap pribadi itu unik. dan berteman, adalah menciptakan sebuah ruang yang disepakati dapat dimasuki bersama, lengkap dengan segala "keajaiban-diri" tadi. ruang pertemanan adalah situasi tanpa tegangan, tanpa tanda-tanda, juga defenisi, mungkin hanya semacam persinggahan untuk membiarkan diri kita dimaknai orang lain, bisa dengan sedikit sengketa, dengan tawa, atau dengan kediamdirian semata. membiarkan diri dimaknai, bagi kami, adalah peluang untuk melihat diri tak lagi dari satu sisi. betul, tafsir orang lain bisa salah, bisa tak sesuai dari laku kami. tapi sekali lagi kami percaya, tanggapan orang lain adalah cermin dari semua laku kami. meski, tentu saja, sebagai cermin, orang lain, juga teman-teman, tak akan menampilkan bayangan yang sempurna. tapi, bukankah memang kita tak pernah dapat mengelak dari bayang?
        ah, lihatlah, di pematang langit utara, petir mulai mencambukkan pijarnya. dan dingin ini, mulai memberi rasa. aku harus segera membuka e-mail mereka, dan mendapatkan ruapan hangat kata-kata. oh ya, aku pun mengirimkan sepotong sapa ini, untuk menghangatkan dirimu juga. semoga sampai, juga terasa.