Thursday, August 05, 2004

yang absurd, yang sementara

        non, pagi tadi, aku berjumpa lagi dengan dia, orang yang mempertemukan aku dan kamu. sudah lama sekali aku tak menjumpainya, dan kalau pun ada kesempatan bersua, aku memilih menghindar. aku selalu merasa tak kuat jika dia bertanya, di mana kamu. aku tak ingin berbagi apa pun tentang kamu kepada siapa pun, juga dia. karena aku percaya, sekali saja aku berbagi, mereka akan menghisap kesedihan itu dariku. dan aku non, justru selalu dipertautkan dengan kesedihan itu.
        tapi, tadi aku tak bisa menghindar. kami bertemu di sebuah ruang, dia di sampingku, menjadi moderator pengganti. dan aku, yang harus berbicara, merasakan kesesakan, begitu tiba-tiba. bahkan, tanganku gemetar. aku begitu takut dia meminta bagian dari kesedihan kita.
        "tenanglah, aku tidak akan bertanya apa-apa," katanya, sambil menepuk tanganku.
        aku lega. dan sampai usai diskusi itu, kami tak pernah kembali ke masa lalu. dua-tiga percakapan awal, adalah bertanya kabar. selebihnya, kami sama-sama menghindar.
        ah, aku jadi ingat awal bertemu dia, di awal aku kuliah, di musala kampus, waktu maghrib yang sudah aku lupakan. dua jam sebelumnya, aku melihat dia mabuk, muntah-muntah, dan tertidur di musala. Tapi, ketika maghrib itu, dia bangun, dan bersiap untuk salat. aneh. aku berkali-kali melihat aktivis kampus ini mabuk, dan tertidur di situ. namun, baru kali itulah aku tahu kalau dia juga salat.
        non, kami berjamaah, dia meminta aku jadi imam. tak masalah. dan seusai bersalaman, aku dekati dia yang duduk bersandar. singkat cerita, kami berkenalan, dan ngobrol ngalur-ngidul. tapi, waktu aku tanya, kenapa dia bisa langsung bergegas salat dengan sisa pusing mabuk, ia terdiam. lama, menjangkau rokok, dan berkali-kali menggoyang-goyangkan kepala, ia lalu berkata, yang masih kuingat sampai kini.
        "aku juga sering nggak tahu kenapa. rasanya begitu otomatis. kalau azan, seluruh tubuhku bergetar meminta salat. aneh memang. jika aku tidak salat, aku merasa kehilangan sesuatu. tapi jika usai salat, aku tak pernah merasa mendapatkan apa pun. aku bergerak antara tak ingin kehilangan dan tak pernah mendapatkan."
        non, aku tak dapat mencerna kalimat itu, meski secara ajaib seperti terpaku dalam batang otakku. dan sesudah percakapan itu, lama masih terngiang apa yang dia ucapkan, apalagi kami kemudian menjadi teman, dengan jarak usia nyaris 10 tahun. dan kian lama, kusadari, dia semacam keajaiban, hidup dalam dua pertentangan, dan menjalaninya dengan ringan.
        dia lalu mempertemukan kita, di sebuah kemah. dia menitipkan kamu, yang lemah di udara dingin. dan aku menyambutmu, lebih karena ingin.
        setelah kamu "tak ada", non: kalimat dia tadi menderaku lagi. dalam arti yang berbeda, aku kini pun bergerak antara "tak ingin kehilangan dan tak pernah mendapatkan". aku tak pernah ikhlas kehilangan kamu, dan melakukan apa pun agar kita tersambung. tapi apa pun yang kulakukan, kusadari, tak pernah akan mendapatkan kamu. aku seperti mengejar ufuk.
        refleks ingatan yang menjangkau kamu, cerpen-puisi-tangis-sesal, blog ini, adalah semua energi yang kukerahkan untuk selalu berlayar bersamamu. tapi usai segaris tangis, sebait sesal, segugus puisi, selalu saja aku gagal menjangkaumu. kau non, selalu berada di antara suasana ketika akan mengabadikan kenangan, bukan di pengabadian itu. kau berdiam di antara keinginan untuk, dan bukan di saat telah. kau tidak pernah hadir di airmataku, di puisi, atau di blog ini. kamu menggenang di suasana yang membuat aku bisa melahirkan semua itu.
        geletar tubuhnya ketika mendengar azan sehabis mabuk itu, adalah kesakitanku di saat berusaha melahirkan anak-anak kenangan kita. kecewa dia usai salat maghrib itu, adalah sakitku juga saat kau tak abadi di tangisku.
        non, gerakku antara tak ingin kehilangan dan tak pernah mendapatkan itu, mungkin bagi orang lain adalah sesuatu yang sia-sia, absurd, dan sementara. hhh..., mereka tidak pernah tahu, bahwa kita berdua, dulu, pernah bahagia, dengan yang absur, dengan yang sementara.