lupa akan membebaskan kita
non, hari ini kamu berulang tahun, dan aku tak tahu harus memberikan kado apa untukmu. ya, ini ulang tahunmu yang kedua, setelah perpisahan kita. tapi ini adalah ulang tahunmu yang pertama, yang aku tak punya khayalan apa pun yang dapat kuberikan padamu.
aku ingat, dulu, setiap kali kutanyakan padamu, "non ingin apa?" dan kau selalu tertawa, "berikan aku selalu yang kecil, yang mempertalikan kita." dan aku bingung, selalu menggelengkan kepala.
yang kecil non, yang mempertalikan, apa? maka kubelikan kamu cepit rambut kecil, yang barangkali hanya cukup untuk menjerat 20 lembar rambutmu. dan kau terkikik, "ini sesuatu yang tak terduga, tapi aku suka." aku bahagia.
Aku juga ingat, tiga tahun lalu, saat kau kembali berulangtahun. aku begitu bingung, tak terpikir lagi benda kecil yang akan dapat membuat kita tambah tertalikan. tapi, ketika aku tanya, kamu malah memberi jawaban yang tak terduga. "untuk kadoku, boleh aku memilih sendiri, kali ini?" aku mengangguk. kamu meminta uang, 350 ribu. aku memberi, dengan sedikit kaget. uang sejumlah itu, tentulah bukan untuk kado kecil yang mempertalikan. kau menikmati sekali kekagetanku. "tidak ikhlas, ya?" godamu.
malam itu, aku ingin tahu, kado apa yang kau berikan untuk dirimu. dan di atas kasurmu, di kamar kosmu yang selalu lengang untuk kita mesrakan, kau letakkan kado itu, untuk dirimu sendiri. "bukalah. ini kado terbaik yang paling aku inginkan," pintamu. dan aku membuka bungkus itu, untuk kehilangan kata-kata, terperangah.
ya, non: di dalam kertas tipis itu, aku menemukan sebuah buku "the name of the rose", dan sebuah ikat pinggang. itu adalah buku yang selalu kukatakan padamu, begitu kuinginkan. sedangkan ikat pinggang, adalah "kebutuhan" yang kuabaikan, karena aku masih dapat menyembunyikannya dengan mengeluarkan kemeja.
"itu kado aku, elang. tapi untukmu. ini kadoku yang paling indah, yang kuserahkan untukmu. itu buku yang paling kucemburui tiap kali kita ke gramedia. Ia selalu mengambil kamu dari duniaku. Kubeli dia agar kamu bisa bersamanya, juga di saat bersamaku. sedangkan ikat pinggang itu, setidaknya dapat menjaga langkahmu, bahwa aku selalu ada, kapan pun, di antara hati dan nafsumu."
aku tak bisa apa-apa mendengar kamu mengatakan itu, non. semua terlalu mengejutkan. mataku basah. kamu memang keajaiban yang datang untukku. sungguh keajaiban.
"di hari lahirku ini, cukuplah aku menyadari, bahwa aku bersama kamu, memiliki kamu, elang."
dan aku peluk kamu, dengan cium, dengan cumbu. malam itu, kuwakafkan diriku menjadi kado ulangtahunmu.
aih, ulang tahunmu kali ini pasti berbeda sekali. semua yang pernah kita ciptakan, ternyata keindahan suatu ketika, suatu masa, dan... lalu semuanya lewat, begitu saja. kau menjadi lembaran foto menguning, terselip di sesela cerminku. dan kenangan yang abadi, di kepalaku.
[elang, benarkah lupa akan membebaskan kita?
seperti katamu, hidup memang penuh kejutan. dan tiap kejutan datang, kita selalu sadar, hidup tak pernah sepenuhnya kita kendalikan. ketakterdugaan itu, elang: membuat kita runduk, dan tahu, ada peta yang telah diterakan, yang tengah kita jalani.
pernah, kamu menjadi petaku, dan aku menjadi petamu, dengan satu kejutan: aku tak lagi memegang masa depan. tiba-tiba, elang: aku harus menerima ini, arah kita berbeda haluan. sebuah tangan yang tak kelihatan, memotong lintasanku, menjadikan jalan buntu. dan titik pijakku leburkan diri menjelma masa lalu. kau tak lagi bisa bersamaku elang... aku tak bisa menginginimu.
elang, percayalah, lupa akan membebaskan kita.
lupakanlah aku, sepertiku yang telah melupakanmu.]