Friday, June 17, 2005

frasa lirih konsonan sedih

        setiap kali memasuki kamar ini, lelaki itu pasti menghempaskan tubuhnya ke ranjang. membantali kepalanya dengan satuan dua telapak tangan, matanya nanap ke langit-langit, dan napasnya terdengar panjang. pasti, tiga empat menit dia begitu, lalu duduk, melepaskan tali sepatu. melemparkan sepatu di kolong meja, tangannya yang panjang akan meraih kulkas. segelas aqua kecil dia tenggak, botolnya dia lempar ke tempat sampah, sebelum berdiri, dan berjalan 7 langkah ke kanan. menyibakkan tirai, ia membuka pintu kaca, yang menghubungkannya dengan suara-suara di luar sana.
        biasanya juga, ia akan melewati celah pintu kaca itu, dan membiarkan kaki telanjangnya merasai dingin lantai teras kamar. ini lantai 5, dan dari tembok pengaman sepinggang, pandangannya mengedar ke utara, lanskap langit yang bebas dari badan beton tinggi. 10 menit berdiri, yakin udara kamar telah berganti, tubuhnya bergerak, mengunci pintu, menarikkan tirai, ia menuju kamar mandi. tak lama, ia akan keluar dengan rambut basah, bersijingkat, tubuh telanjangnya seperti menari menuju almari, menarikkan sarung dan kaos tipis. dan ketika geraknya sampai ke tengah kasur, sarung dan kaos telah sempurna menyelimuti tubuhnya. pasti juga, akan dia pesan kopi kental melalui telepon, kemudian dia tarikkan notebook yang tergolek di dekat bantal. ia nyalakan ms word, kalimat yang nyaris sama akan dia ketikkan, "ruang ini masih kosong, udara hanya berbau tubuhku. sepi menekan mendesak. sendiri. menanti. hari keempat, dan hatiku masih saja mau menunggu, ketukan di bibir pintu."
        saat dia padamkan notebook itu, terdengar ketukan, tapi bukan dari yang dia tunggu. kopi datang, dan dia tahu, malam kembali akan terasa panjang.
        setiap kali memasuki kamar ini, lelaki itu akan melakukan hal yang sama, empat hari ini. tapi, tidak malam ini, saat dia termangu, di kasurnya telah duduk seorang perempuan, memangku bantal. menunggu.
        perempuan itu adalah aku.
        lima hari lalu, dan sebuah sms. "dari sini, aku seperti mendengar halus tarikan napasmu. mataku pun melihat siluet tubuhmu mencemari kaca, di lantai 9 itu. jarak ini begitu pendek, tapi kau masih terasa jauh..." sms dari elang. ia sudah datang.
        tujuh hari lalu, aku tak bisa berjanji menemuinya. "elang, kalau menemuimu, aku akan meninggalkan dia. dan saat ini aku tak bisa. cukuplah kamu sadari, aku ada. mengajakmu berbicara dengan hatiku. kita dekat, elang. tak berjarak. masih seperti dulu."
        "aku tak memintamu meninggalkan dia," suaranya terdengar cemas. "aku hanya ingin berjumpa. aku ingin mengenangmu tidak hanya dari masa lalu."
        "maaf elang. tidak bisa, tidak lagi bisa...."

        ketika sampai di hotelnya 23 menit lalu, resepsionis seperti sudah menungguku. "ibu ara, ya? bapak elang tadi pesan, jika ibu datang, silakan menunggu saja di kamarnya." aku terpaku. ahh-, lelaki itu masih saja dapat menebak hatiku. kupegang kunci kamar 512, langkahku berayun seperti hatiku.
        sekarang aku di kamar ini.
        lelaki itu masih seperti 370 hari lalu. tak ada yang berubah, kecuali matanya yang kian dalam. dan geraknya yang terhenti antara jarakku dan televisi, membuatku menangkap sempurna ketegangan di wajahnya.
        "aku tahu kau akan datang..." suaranya seperti cemas yang lepas. ketika kusambut tangannya, kurasakan tarikannya. tubuhku memberat. ia akhirnya yang mendekat, menyandarkan dadanya ke pipiku. ini janjinya, dan aku memang mendengar gemuruh yang begitu menyenangkan di tubuhnya. rasa itu masih ada. ia lalu duduk di depanku, dengan kaki yang menjuntai.
        "370 hari, non: betapa lama..."
        Ya, betapa lama. ketika dulu mengucapkan janji bertemu setelah 12 purnama, aku yakin akan dengan gampang memenuhinya. elang juga tak meminta lebih. ia hanya rindu duduk berdua, berbicara. masih kuingat keinginannya, di suatu subuh saat kubangunkan dia. suaranya masih berbau mimpi saat berkata, "mungkin kita hanya bertutur tentang pagi, dingin udara, dan rekah fajar di utara. atau tertawa mendengar seruling gembala, di sebuah desa, yang namanya tak pernah kita temukan di peta. kita cuma tahu, kita bahagia.
        "barangkali, kita sesaki percakapan itu dengan tegukan teh, gigitan donat, dan desah membuang dingin. atau ringkukkan tubuh, gerak refleks mencari hangat. berkali-kali kusenyumi napasmu yang mengental, uap putih yang tampak sebentar, sebelum dibusar angin.
        "aku bayangkan, di bibir meja, jari-jari kita bersentuhan, dan kau ketukkan baku jarimu di punggung tanganku, iringi lirih bibirmu mendendangkan lagu, "because i love you". dan dari getar tangan itu, mengalir nada-nada hangat memenuhi dadaku.
        12 purnama, non: itu tak lama..." tapi tadi, dia mengatakan. betapa lama.
        "elang, ceritai aku tentang kamu. aku kangen suaramu, kangen puisi-puisimu."
        lelaki itu menaikkan kakinya, bersila, dengkul kami bersentuhan. ia bercerita tentang kerja, dan waktu-waktu kosong yang menyiksa. "setiap berhenti bergerak, pikiranku serentak menghitung hari, 365 yang telah terkurangi. dinding kamarku penuh garis, non: coretan hari yang telah kujalani. menunggumu seperti membunuh diri."
        ia lalu membuat blog, dan menuliskan patah-patah kenangan. "tapi, selalu ada yang tak bisa ditulis. selalu ada yang tak bisa dipindahkan..."
        ia ceritai beberapa perempuan yang memapas langkahnya, tapi: "dalam hidup seorang lelaki, akan tuhan tunjukkan satu keajaiban di dalam diri perempuan. dan aku tahu, kamulah keajaiban itu. maafkan jika sampai hari ini, aku masih berharap..."
        "elang, sudahlah. tidak usah diteruskan. ingat apa yang aku katakan, ingat kan? kita tidak boleh banyak berharap. kita percayai saja, garis yang tuhan bentangkan ini ada ujungnya. yakin saja, kita akan sampai ke ujung itu. kalau pun tidak sampai, kita bisa apa... kita tidak selalu bisa memilih, elang..."
        "tapi non, tapi..."
        "ssstt... sudahlah. sudahlah, elang." ada kejap protes di matanya. tapi aku tahu, jika tak kuhentikan ucapannya, percakapan kami nanti akan berubah jadi ratapan. aku cuma tak ingin, hari ini diisi dengan kesedihan. "bacakan saja aku puisi, ya?"
        ia terdiam. kubiarkan jariku diremasnya, dan sesaat setelah bibirnya menyentuh punggung tanganku, gumam pelannya terdengar.

dalam sel ini kita berbahagia, sebenarnya
bercakap tentang cerita pendek
dan bab yang hilang
pada kertas robek

atau bertanya apa yang diucapkan Ophelia
sebelum hanyut,
meskipun malam
tak hanya menyahut

atau terbaring di dipan datar
mengusut kata, kata, kata,
menyangsikan yang benar adalah benar
dan nasib yang mencederai kita

kadang kita dengar frase yang lirih
dan di luar itu, desah hantu
seperti sepatah konsonan sedih
yang menyimpan masa lalu

tapi dalam sel ini kita berbahagia, sebenarnya



        "sekarang, ceritakan tentang kamu, non. aku ingin kamar ini tahu, semua yang terjadi denganmu, sejak 12 purnama lalu. kamu tahu kenapa kupilih kamar 512 ini? karena aku bayangkan, akan 5 hari bersamamu, setelah 12 bulan itu. tapi satu senja ini pun cukuplah. ayo, berceritalah cintaku. bukakan tubuhmu di kasur ini. mengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelam, dari kecemasan sampai istirahat dalam kecemasan..."
        aku tergeragap. sihir puisi tadi belum sepenuhnya bisa kukuasai, dan elang meminta cerita. tentang apa? yang bisa aku katakan adalah seseorang selain dia. aku tak bisa, aku tak bisa melihat dia terluka.
        "elang, aku tak punya cerita apa-apa. aku cuma tahu, aku sayang elang. itu saja." tanpa sadar, kupindahkan bantal dari pangkuanku. mata lelaki itu terbeliak.


aku memekik tanpa suara. ketika bantal itu berpindah dari pangkuannya, kulihat perutnya yang tidak lagi rata. wajahnya pias, tangannya menggapai-gapai, kembali meraih bantal. matanya basah, menangis. "aku tidak ingin memberitahumu dengan cara begini, elang. aku tak ingin menemuimu. tapi hatiku tak bisa, tak bisa..."
        sedari tadi sebenarnya aku merasa ada yang tak biasa. ketika melihat dia duduk bersandar dengan memangku bantal, aku merasa ada yang janggal. tapi hatiku tak terbiasa menaruh curiga. dan beginilah akhirnya, tubuhku kaku. lidahku terkunci. yang dapat aku lakukan hanya membuang napas, dan bangkit. kuteguk aqua dari kulkas, kuremukkan gelasnya sebelum masuk ke tempat sampah. kamar ini terasa begitu panas.
        duduk di meja, sedan itu memaksa mataku menemukannya. dia masih duduk, menatapku dengan mata basahnya. di ujung hidungnya, kulihat air. ingin rasanya aku bergerak, menyurukkan tangis itu ke dadaku. tapi kakiku tak ada daya. bahkan ketika berkali-kali kudengar lirihnya, "maafkan aku, elang... tak seharusnya aku datang, tak seharusnya..." aku tak juga bergerak. dadaku masih terasa sangat sesak, dan apa ini, ya tuhan... mataku pun basah.
        "tak ada yang perlu dimaafkan, non. tak ada yang salah... bukankah kita sama percaya pada ujung dari garis ini? bukankah kita sama berjanji untuk mengikuti rencana tuhan ini, sampai selesai. aku tak apa-apa, aku hanya kaget, sungguh..." kubalikkan tubuhku. ingin rasanya aku memekik, memekik, biar semua ganjalan, semua yang tertahan di dada ini tumpah. biar semua "kenapa? kenapa?" ini terbuang. biar semua... hhhh--...." kubuang tubuhku ke kanan, keras kutarikkan tirai, kubuka pintu, dan segar udara luar menyerbu wajahku. di tembok pembatas sepinggang itu, di luas langit yang tak terjerat beton, kuhembuskan napasku, sekuatnya, sekuatnya, sebisanya....

        aku tahu elang menangis. aku tahu dia terluka. sedari tadi, sebenarnya aku sangat takut dia melihat perubahan di tubuhku. tapi kukira, bantal itu akan dapat menghalangi sempurna. dan benar, bantal itu bisa, tapi hatiku yang tidak. hatiku yang terlalu gembira dengan puisinya, tak bisa menjaga rahasia. iya elang, aku hamil. dengan dia yang datang sebelum kamu. dengan dia yang tetap ada sesudah kamu. aku pernah bercerita padamu bukan? dan kau paham. tapi aku tahu elang, melihat perempuan yang kamu cintai hamil, pasti lebih sakit dari apa pun.
        aku tahu kamu menangis. dari sini, kulihat pundakmu yang naik turun. sesenggukan. maafkan aku, elang. seharusnya aku memang tidak menjumpaimu. seharusnya aku percaya, bahwa ini akan jadi menyakitkan. tapi tahukah kamu elang, ini anakmu. tahukah kamu, setiap malam aku bayangkan kamu yang bersamaku. setiap saat, aku rasakan kamu yang mencumbuku, bukan dia, bukan dia, elang. secara psikologis, ini anakmu, elang: anak kita. tapi aku tak sempat mengatakannya. aku tak bisa lagi mengatakannya. sia-sia.
        aku tahu kamu menangis. bersandar di pintu kaca ini, aku mendengar isakmu, juga isakku. maafkan aku, elang. tidak seharusnya kita berpisah begini. tapi aku harus pamit, biar ini tak tambah menyakitkan. percayalah, aku masih menyayangimu. selalu.
        kulambaikan tangan pada punggung lelaki itu. ia pasti akan tahu, akan mengerti. dan saat langkahku menjauhi pintu kaca itu, gumam isaknya menjangkau telingaku.

aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
berapa juni menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
kudengar berulang suara gelombang di udara memecah
nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

telah rontok kemarau yang tipis, ada yang mendadak
sepi
di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun
menanti
barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama

Friday, May 20, 2005

lupa akan membebaskan kita

        non, hari ini kamu berulang tahun, dan aku tak tahu harus memberikan kado apa untukmu. ya, ini ulang tahunmu yang kedua, setelah perpisahan kita. tapi ini adalah ulang tahunmu yang pertama, yang aku tak punya khayalan apa pun yang dapat kuberikan padamu.
        aku ingat, dulu, setiap kali kutanyakan padamu, "non ingin apa?" dan kau selalu tertawa, "berikan aku selalu yang kecil, yang mempertalikan kita." dan aku bingung, selalu menggelengkan kepala.
        yang kecil non, yang mempertalikan, apa? maka kubelikan kamu cepit rambut kecil, yang barangkali hanya cukup untuk menjerat 20 lembar rambutmu. dan kau terkikik, "ini sesuatu yang tak terduga, tapi aku suka." aku bahagia.
        Aku juga ingat, tiga tahun lalu, saat kau kembali berulangtahun. aku begitu bingung, tak terpikir lagi benda kecil yang akan dapat membuat kita tambah tertalikan. tapi, ketika aku tanya, kamu malah memberi jawaban yang tak terduga. "untuk kadoku, boleh aku memilih sendiri, kali ini?" aku mengangguk. kamu meminta uang, 350 ribu. aku memberi, dengan sedikit kaget. uang sejumlah itu, tentulah bukan untuk kado kecil yang mempertalikan. kau menikmati sekali kekagetanku. "tidak ikhlas, ya?" godamu.
        malam itu, aku ingin tahu, kado apa yang kau berikan untuk dirimu. dan di atas kasurmu, di kamar kosmu yang selalu lengang untuk kita mesrakan, kau letakkan kado itu, untuk dirimu sendiri. "bukalah. ini kado terbaik yang paling aku inginkan," pintamu. dan aku membuka bungkus itu, untuk kehilangan kata-kata, terperangah.
        ya, non: di dalam kertas tipis itu, aku menemukan sebuah buku "the name of the rose", dan sebuah ikat pinggang. itu adalah buku yang selalu kukatakan padamu, begitu kuinginkan. sedangkan ikat pinggang, adalah "kebutuhan" yang kuabaikan, karena aku masih dapat menyembunyikannya dengan mengeluarkan kemeja.
        "itu kado aku, elang. tapi untukmu. ini kadoku yang paling indah, yang kuserahkan untukmu. itu buku yang paling kucemburui tiap kali kita ke gramedia. Ia selalu mengambil kamu dari duniaku. Kubeli dia agar kamu bisa bersamanya, juga di saat bersamaku. sedangkan ikat pinggang itu, setidaknya dapat menjaga langkahmu, bahwa aku selalu ada, kapan pun, di antara hati dan nafsumu."
        aku tak bisa apa-apa mendengar kamu mengatakan itu, non. semua terlalu mengejutkan. mataku basah. kamu memang keajaiban yang datang untukku. sungguh keajaiban.
        "di hari lahirku ini, cukuplah aku menyadari, bahwa aku bersama kamu, memiliki kamu, elang."
        dan aku peluk kamu, dengan cium, dengan cumbu. malam itu, kuwakafkan diriku menjadi kado ulangtahunmu.
        aih, ulang tahunmu kali ini pasti berbeda sekali. semua yang pernah kita ciptakan, ternyata keindahan suatu ketika, suatu masa, dan... lalu semuanya lewat, begitu saja. kau menjadi lembaran foto menguning, terselip di sesela cerminku. dan kenangan yang abadi, di kepalaku.


        [elang, benarkah lupa akan membebaskan kita?
seperti katamu, hidup memang penuh kejutan. dan tiap kejutan datang, kita selalu sadar, hidup tak pernah sepenuhnya kita kendalikan. ketakterdugaan itu, elang: membuat kita runduk, dan tahu, ada peta yang telah diterakan, yang tengah kita jalani.
        pernah, kamu menjadi petaku, dan aku menjadi petamu, dengan satu kejutan: aku tak lagi memegang masa depan. tiba-tiba, elang: aku harus menerima ini, arah kita berbeda haluan. sebuah tangan yang tak kelihatan, memotong lintasanku, menjadikan jalan buntu. dan titik pijakku leburkan diri menjelma masa lalu. kau tak lagi bisa bersamaku elang... aku tak bisa menginginimu.
        elang, percayalah, lupa akan membebaskan kita.
        lupakanlah aku, sepertiku yang telah melupakanmu.
]

Wednesday, March 09, 2005

umar bin khatab dan maaf

        12 tahun yang lalu, sebelum berangkat ke jawa, ibu memanggilku. "ia, duduklah sebentar. ada yang ingin ibu katakan."
        aku pun duduk di atas dingklik kecil, sehingga pundakku bisa menyandar ke rosbang yang diduduki ibu. ini memang kebiasaan kami, duduk dalam posisi itu, nyaris setiap hari minggu. sebabnya, mulai masuk sma, ibu menemukan beberapa uban di kepalaku. dan jadilah minggu sebagai rutinitas ibu membusai kepalaku, mencari uban, yang meskipun di dapat, tapi tak lebih dari tiga helai saja.
        "kamu masih ingat cerita umar bin khatab?" ibu mulai membuka percakapan.
        aku mengangguk, sehingga kurasakan rambutku sedikit tertarik dari genggaman ibu.
        "bagian mana yang kamu ingat?"
        "perjuangannya, bu. rasanya, dialah salah seorang sahabat nabi yang paling siap berjuang dan berkorban demi islam."
        ibu diam sebentar, hanya telisikan jarinya di peta kepalaku yang masih kurasakan bekerja. "kamu ingat masa lalu umar? sebelum ia masuk islam?"
        aku tertawa. "tak satu pun aku lupa. kenapa, bu?"
        "tapi, setiap kali kamu ditanya tentang umar bin khatab, bagian mana yang selalu kamu ingat?"
        "ya perjuangannya untuk kebesaran islam, bu?"
        "kenapa?"
        "ya karena itu yang duluan aku ingat."
        "iya... tapi kenapa bagian itu? kenapa tidak bagian dari masa lalunya yang kamu ingat? kekejamannya? nalurinya yang selalu siap untuk membunuh?"
        "iya ya? kira-kira kenapa, bu?"
        "kamu ini, ditanya malah nanya?" ibu menekan kepalaku, membuat nyengirku kian lebar. dan seperti biasa, ibu akan selalu punya jawaban atas pertanyaan yang dia ungkapkan sendiri. "ia, ibu juga selalu bertanya, kenapa kita bisa begitu lupa pada masa lalu umar sebelum islam? kita ingat, tapi masa lalunya yang luar biasa kelam itu tak meninggalkan kesakitan meski kita mengingatnya. umar bahkan jadi contoh baik tentang sosok yang bisa lepas dari kekejaman jahiliyah. kamu tahu perkiraan, ibu?"
        aku menggeleng.
        "huh! kamu ini gampang sekali menggeleng, tidak pernah berusaha memikirkan jawaban," kembali rambutku ditarik ibu, tapi aku diam saja. "barangkali, umar jadi semacan contoh bagaimana seharusnya kita memandang seseorang. bahwa manusia selalu bisa berubah. bahwa kita harus terbiasa memandang orang dengan kemungkinan dia untuk dapat bergerak, ke arah yang lebih baik. dan masa lalu tak akan pernah bisa kita jadikan ukuran untuk menilai masa depan seseorang. kamu mengerti?"
        aku mengangguk.
        "bagian mana yang kamu mengerti?"
        ha? duh! aku gelagapan...
        "maksud ibu, ia: nanti kamu akan memiliki pergaulan yang lebih luas di jawa. dan jika dalam pergaulan itu, kamu melihat dan menemukan, atau terlibat dalam kesalahan seseorang, janganlah kamu cepat menilainya, atau menjadikan kesalahan itu sebagai keseluruhan dirinya. ingat anakku, setiap kali seseorang meminta maaf kepadamu, jadikanlah semua kesalahannya sebagai bagian dari masa lalu. setiap kali ada yang meminta maaf padamu, ingatlah pada umar, ingatlah pada ibu. kau mengerti?"
        aku mengangguk. kali ini sungguh-sungguh mengerti.

        Dua hari setelah itu aku berangkat ke jawa. dan ketika pamitan, di antara pelukan yang dibasahi airmata, ibu masih menyempatkan membisikkan fatwa: "ia, jagalah dirimu ketika kamu sedang marah atau kecewa ya? karena dalam posisi itulah kualitas diri kamu mendapatkan ujian." aku mencium tangan ibu, dan kemudian berlalu....