gelap, perselingkuhan kunangkunang
non: pernah kamu melihat kunang-kunang? titik kecil yang bersinar, menari, kala terang bersembunyi dalam gelap. ketika bayang mengembari kita? kunang-kunang, non: hidup dari kegelapan. dia mendapat arti, dari terang yang bersembunyi. tanpa itu, kunang-kunang, nyaris benda kecil yang tak akan tertangkap mata, dan kita boleh abai karenanya.
tapi, non: ketika melihat kunang-kunang, pernahkah kita berterimakasih pada gelap. pernahkah kita tersenyum takjub pada cahaya yang tak unjuk diri. adakah setitik senyum kita haturkan pada bayang. tidak. kita abai gelap,terhipnotis pada cahya kunang, dan diri tersedot pada pijarnya. dan kita berkata, "untung masih ada kunang-kunang."
atau, non: pernahkah engkau melihat bulan dari atas pematang, di sisi hamparan pepadian, atau rumput, ketika gelap merajalela. ya, bulan di atas tanah lapang, yang diselimuti kabut tipis dan hilang cahaya, adalah bulan yang mempertajam imaji-khayal, bulan-asmara, yang mempermanja hati. tapi, jika kau mengalami itu, bergegaslah ke kota, bergegaslah, non. lihat bulan yang sama, bulan yang beberapa menit lalu melahirkan asmara di hatimu. bulan yang tak beda itu, terlihat biasa, terjerat di antara jelujur kabel listrik, kalah terang, mengecil, dan hilang cahaya, oleh pijar lampu yang menyorot jalan, oleh terang yang disemburkan rumah dan mobil. bulan di kota, adalah cahaya yang tak pernah memancing kita untuk duduk menekurinya.
non, intinya: adalah gelap, adalah terang yang menahan diri, bersembunyi.
dalam hidup, non: kita sering menjumpai "kunang-kunang", juga "bulan", dan kita selalu terpesona, abai pada "gelapnya", lupa pada kemurahan "cahaya yang tak hadir". dan kita tersedot, terhipnosa, hanyut...
saat jatuh cinta, kita hanya ingat pada kekasih kita. saat menangis, kita terlarut pada duka. saat tertawa, kita hanya patuh pada kelucuan. kita abai pada lawannya, kita abai pada "sesuatu yang sengaja tak hadir", yang dengan rendah diri, "bersembunyi," agar sesuatu yang lain mau tampil.
non, saat kau takluk pada "kekasihmu", pada "kunang-kunang" itu, cobalah untuk bersyukur pada "cahaya yang sengaja tak hadir", yang aku tak tahu siapa, mungkin problemmu, mungkin jenuhmu, mungkin swasana hati, atau yang lainnya. kau boleh terpesona pada "kunang-kunang" itu, tapi jangan, please..., jangan lupa pada "gelapnya".**
<< Home