Saturday, June 26, 2004

kangen, susupan jarum di balik kulit

aku kangen dia. entah kenapa, tiba-tiba saja, alir darahku menderas, membuat dadaku berbuncah. selintas, amat cepat: sakit. aku kangen dia yang suka mengajakku berbasah-basah, yang lebih memilih menutupkan payungnya, dan kala lelah berbasah, dia memintaku memeluknya, dari belakang, duduk merapat-kedinginan.

biasanya, dia minta aku mendiamkan gigil di bibirnya, dengan bibirku, sampai kami merasa hangat. dan saat napasku mulai menderas, dia pasti akan menggigitku, meninggalkan perih yang nikmat, sebelum lari beranjak mandi. lalu tersenyum sediakan kopi, handuk, juga sarung, dan mengusirku mandi.

di kursi panjang di belakang rumahnya yang menghadap jajaran randu, biasanya aku duduk, dan dia berbaring, berbantalkan pahaku: kubusai-busai rambut basahnya, menciumi keningnya, bangir hidungnya.

"kamu selalu nakal,..." katanya
"kamu selalu pantas dinakali," kataku, dan kucium kelopak matanya.

ah, datang lagi kenangan ini. di bawa hujan yang menggerimisi kantorku, seperti jarum yang sengaja disusupkan di balik kulitku.

aku kangen dia, kangen yang tak bisa kusampaikan dengan kata-kata, dengan telpon atau canda. kangenku, hanya bisa sampai lewat doa dan air mata, juga kenangan...

posted by biru elang-bara @ 3:58 PM  

<< Home

My Photo
biru elang-bara

jika kau lihat tetasan embun di ujung daun, garis hujan yang jatuh di buram kaca, jalan pelangi di nadir senja, atau kicau murai di pangkal subuh, bening mata bayi, gelak bocah bermain gerimis, dan merah pipi dara dipukul asmara,-- dan engkau menyukainya: aku adalah kepaduan dari semua itu.

kenali biru-bara lebih jauh

SUNYI YANG BERANJAK

  • engkau masih sesegar hujan
  • gerimis, juga isyarat tangis
  • takdir, jelentik randu dipukul terik
  • ingatan, siksa musa di puncak tursina

Powered by Blogger

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Site Meter