kangen, susupan jarum di balik kulit
aku kangen dia. entah kenapa, tiba-tiba saja, alir darahku menderas, membuat dadaku berbuncah. selintas, amat cepat: sakit. aku kangen dia yang suka mengajakku berbasah-basah, yang lebih memilih menutupkan payungnya, dan kala lelah berbasah, dia memintaku memeluknya, dari belakang, duduk merapat-kedinginan.
biasanya, dia minta aku mendiamkan gigil di bibirnya, dengan bibirku, sampai kami merasa hangat. dan saat napasku mulai menderas, dia pasti akan menggigitku, meninggalkan perih yang nikmat, sebelum lari beranjak mandi. lalu tersenyum sediakan kopi, handuk, juga sarung, dan mengusirku mandi.
di kursi panjang di belakang rumahnya yang menghadap jajaran randu, biasanya aku duduk, dan dia berbaring, berbantalkan pahaku: kubusai-busai rambut basahnya, menciumi keningnya, bangir hidungnya.
"kamu selalu nakal,..." katanya
"kamu selalu pantas dinakali," kataku, dan kucium kelopak matanya.
ah, datang lagi kenangan ini. di bawa hujan yang menggerimisi kantorku, seperti jarum yang sengaja disusupkan di balik kulitku.
aku kangen dia, kangen yang tak bisa kusampaikan dengan kata-kata, dengan telpon atau canda. kangenku, hanya bisa sampai lewat doa dan air mata, juga kenangan...
<< Home