Friday, June 25, 2004

ingatan, siksa musa di puncak tursina

masih badai di sana, non? adakah langit dan pepohonan meringkuk dingin, membiru di pukul angin, seperti swasana yang kau tunjukkan di foto itu, samar-biru-usai-badai-salju?

aku telah dipaku di depan layar ini 20 menit, dan tanganku tak juga melahirkan sesuatu. padahal, kepalaku penuh dengan cerita yang ingin kutumpahkan --luapan dari segala lelah--tapi, entah kenapa, begitu layar ini terbuka, aku seperti kepompong yang bangun dari tidur panjang, mendapati diri menjadi kupu-kupu, dan menangis karena tak punya lagi ingatan tentang masa lalu. kucari-cari dalam benang ingatanku, apa yang ingin kusampaikan, tak juga menemu. berdiam diri, menghela napas, menengadahkan kepala pada pijar lampu, kepalaku tak juga menerima sinyal. cerita, juga berita, yang tadinya kurasa terstruktur tersusun di benakku, begitu saja menguap. aku masih bersuara, tapi kehilangan kata.

apa yang terjadi dengan ingatan, non: ketika dia kehilangan kemampuan memunculkan informasi? jika saramago --peraih nobel sastra itu-- mengatakan "kematian yang paling indah adalah ketiadaan ingatan", aku ragu, bahwa ada nikmat di dalam lupa. kehilangan ingatan --ah, semoga ini tak sama dengan gila-- barangkali adalah situasi yang paling menyiksa, setidaknya bagiku. acap aku bersitatap dengan seseorang, di toko buku, loakan, atau jalanan, tangan menunjuk, aku tahu parasnya, tapi bibirku tak bersuara, karena tak ada pasokan nama dari otak ke arah syaraf di mulutku. dan detik ketika kehilangan ingatan inilah yang kukira tak memberi nikmat apa pun.

ketika milan kundera --juga peraih nobel itu-- mengatakan "tugas kemanusiaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa", kini, dalam arti yang amat berbeda, kurasa aku sudah mengamininya. berjuang mencari, memunculkan apa yang ingin kukatakan padamu ketika membuka layar ini, begitu luar biasa beratnya, mungkin seperti siksa yang didera musa di
puncak tursina, kehilangan kuasa, hanya hasrat tunduk yang mengemuka.

ah, lihatlah non, aku telah "cukup" banyak menuliskan kata, tapi sesungguhnya kata-kata di atas, bukanlah "sesuatu" yang awalnya kumaksudkan untuk lahir menjadi awalan percakapan kita. kali ini, aku tampaknya harus percaya pada saramago, "lidah kita tak punya kuasa untuk memilih kata. kata-katalah yang punya tenaga memilih lidah siapa yang paling siap untuk melahirkannya."

aku, non: di subuh ini, tampaknya ditinggalkan kata-kata, meski aku masih bisa menyapamu, dari kejauhan sini, dengan nada dan suara yang tak terucap.