Saturday, July 24, 2004

kau yang harus meneruskan

        senja masih mengirim hujan.
        di ruangan itu, dingin masuk lewat angin yang menerobos singkapan gorden, tabir nako yang tak tertutup. di meja yang penuh buku itu, asbak masih mengirimkan asap, rokok yang nyala.
        sepi.
        satu-satunya suara, adalah denging komputer, dari monitor yang mati. tak ada gerak, hanya rayapan cicak di sudut kanan pintu, merangkaki wajah rendra, entah menunggu apa. semeter darinya, agak mengatas, hanya tiktok jam,  empat seperempat.
        sosok yang meletakkan kaki di tubir meja itu, tak bergerak. hanya katup matanya, menutup-buka, mengirim tanda, dia tak tidur. hidungnya, seolah bahkan, tak menghirup udara. lengannya yang semula terkulai di sisi tangan kursi, menggapai rokok, meletikkan abu, meletakkankanya lagi.  dengan ujung jari kaki, ia tekan tombol monitor, nyala.
        masih belum ada suara.
        mata itu menutup.
        cecak itu telah di dada rendra, mendekam, entah mengancam apa. gorden tak bergerak, api rokok telah mendekati bibir asbak, memberi kesan coklat. jari kurus itu meraihnya, menubrukkan puntung itu ke dasar asbak.
        ia batuk.  belum bergerak
        ............



posted by biru elang-bara @ 11:57 AM  

<< Home

My Photo
biru elang-bara

jika kau lihat tetasan embun di ujung daun, garis hujan yang jatuh di buram kaca, jalan pelangi di nadir senja, atau kicau murai di pangkal subuh, bening mata bayi, gelak bocah bermain gerimis, dan merah pipi dara dipukul asmara,-- dan engkau menyukainya: aku adalah kepaduan dari semua itu.

kenali biru-bara lebih jauh

SUNYI YANG BERANJAK

  • 02, membayangkan dia membacaku
  • non: (2)
  • sepisau sepi
  • non:
  • mari ikutkan rasa
  • gelap, perselingkuhan kunangkunang
  • lelaki yang memanggil keterhubungan
  • warna kupu usai persetubuhan
  • rahasia, pintalan asmara tanpa kata
  • kangen, susupan jarum di balik kulit

Powered by Blogger

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Site Meter