kau yang harus meneruskan
senja masih mengirim hujan.
di ruangan itu, dingin masuk lewat angin yang menerobos singkapan gorden, tabir nako yang tak tertutup. di meja yang penuh buku itu, asbak masih mengirimkan asap, rokok yang nyala.
sepi.
satu-satunya suara, adalah denging komputer, dari monitor yang mati. tak ada gerak, hanya rayapan cicak di sudut kanan pintu, merangkaki wajah rendra, entah menunggu apa. semeter darinya, agak mengatas, hanya tiktok jam, empat seperempat.
sosok yang meletakkan kaki di tubir meja itu, tak bergerak. hanya katup matanya, menutup-buka, mengirim tanda, dia tak tidur. hidungnya, seolah bahkan, tak menghirup udara. lengannya yang semula terkulai di sisi tangan kursi, menggapai rokok, meletikkan abu, meletakkankanya lagi. dengan ujung jari kaki, ia tekan tombol monitor, nyala.
masih belum ada suara.
mata itu menutup.
cecak itu telah di dada rendra, mendekam, entah mengancam apa. gorden tak bergerak, api rokok telah mendekati bibir asbak, memberi kesan coklat. jari kurus itu meraihnya, menubrukkan puntung itu ke dasar asbak.
ia batuk. belum bergerak
............
<< Home