"berapa usiamu ketika jatuh cinta, Von?"
Vonny, temanku itu, agak kaget, lalu tersenyum. "kenapa? sedang jatuh cinta?" lalu kembali menekuri pekerjaanya.
"kalau nggak salah, sih waktu smp aku sudah jatuh cinta, lalu sma, semasa kuliah beberapa kali, seterusnya, ah, aku tahu, cinta tak penting betul, hahha..." dia tetap menekuri pekerjaannya, tak memandangku.
"kenapa?"
dia menoleh. "ya, nggak penting." diambilnya secomot pisang goreng, mengunyah. "terlalu banyak yang perempuan korbankan jika sedang jatuh cinta."
"masa, Von?"
"sungguh!"
"mungkin karena kamu nggak menikmatinya."
"lho, kok kasusnya ditimpakan ke aku, hehehe.." dia mengigit gorengan lagi. "justru karena sangat menikmatinya, aku tahu betapa besarnya pengorbanan yang tanpa sengaja akan kita lakukan."
"misalnya?"
"kamu pernah jatuh cinta, nggak?"
"pernah."
"lha, kok malah tanya misal. coba kamu pikirkan, ingat, ketika kamu menikmatinya, apakah kamu tak melakukan sesuatu yang bodoh, yang sekarang ini tak akan mungkin kamu ulangi?" dia menatapku.
aku tersenyum. tiba-tiba aku ingat ia. dan senyumku makin melebar, ketika dering ponselku memanggil. pasti dia, ia, batinku.
"ada apa, ia? aduh!!" vonny melemparku dengan potongan gorengannya, dan kusambut dengan tawa. "hati-hati, ra..." kedipnya, sambil bergeser ke mejanya, menekuri kembali pekerjaannya.***
<< Home