Thursday, July 22, 2004

02, membayangkan dia membacaku

        aku menyebut lelaki itu ia. bukan karena aku tak mengenalnya, tapi karena dia memang ia, sebutan untuk orang ketiga tunggal, dan memang begitulah hubungan kami, asing. padamulanya.
        aku panggil lelaki itu ia, sebagai sebuah bentangan jarak, yang akan membuat aku selalu sadar, kami berada di sebuah keasingan, yang memendek hanya karena angan dan khayalan. kesadaran, bagiku amat penting, karena aku tak ingin larut, tak mau hanyut.
        dia memanggilku dara, kadang hanya ra: aku menyukainya. tapi selalu menahan diri untuk bertanya, kenapa dia memanggil begitu. aku takut, jika dia pun bertanya kenapa aku memanggil dia ia, aku tak mampu menjawab. bukan karena tak punya, aku cuma tak ingin jarak yang sejak awal aku bentangkan itu, dia ketahui.
        dan kemudian, ia itu menjadi namanya. tampaknya ia suka, aku juga, karena jarak itu tetap ada. tak kuingat betul kapan aku mulai mengenalnya. tiba-tiba saja, di sebuah senja basah gerimis, lelaki itu mampir di komputerku. ia menuliskan sesuatu, yang bagiku tak biasa: sebuah sikap dari suasana yang asing. keinginantahuku tiba-tiba terpancing. aku menggodanya, lebih sebagai sebuah iseng. dia menanggapi, kutahu, lebih sebagai kabaran sepi. lalu kami terhubung.
        aku tahu namanya, sedikit sejarah hidup, juga pekerjaannya, melalui cerita yang dikuarkan komputerku. kami nyambung, dan acap kulihat diriku menikmati percakapan diam itu. lalu kusadari, ada yang bergerak tiap kali membaca tulisannya: rasa ingin terlibat. kami terhubung selalu dalam gerimis, senja yang scarlet, sepi yang menekan-mendesak, belitan masa-lalu, petikan-petikan kisah dalam novel, rencana besar untuk jadi pengarang, uniknya, tanpa melibatkan rasa, percakapan yang intens, dalam, tapi datar. hal-hal yang pribadi tak terusik, tertanggalkan.
        aku mengenal namanya, ia panggil aku dara, selebihnya, kami menerka lewat kata.
dia lalu sakit, dan kontrolku lepas. aku menghubungi lelaki itu. dan suara sumbang di seberang sana, membuatku terbang, terhubung pada semua kenanganku pada seseorang. ada lagi yang bergerak dalam diriku. lalu, saat itu, kunamakan dia ia, biar aku sadar, jarak telah kubentangkan. aku tak ingin lepas kontrol lagi. cukuplah sekali. dan dia, ia, tetaplah orang yang asing. padamulanya.
*****
        "aku kangen kamu, ra... entah mengapa."
        aku menggeragap membaca e-mail itu. dia, ia-ku, telah mulai memendekkan jarak itu. dia, ia-ku, telah memulai membuka sesuatu yang kutakutkan. jarak yang akan dia renggutkan, kutahu, kelak hanya menambah panjang jarak itu, selain luka.
        kenapa, ia, kenapa? kenapa ada kangen! aku pekuri terus e-mail itu. kenapa aku takut sekali akan kangennya? sebelum kami terhubung lewat suara, percakapan kami adalah kesopanan yang maha. tapi setelah itu, --adakah kangen tidak sopan?-- ucapannya yang semacam ini, acap menyenggol-nyenggol hatiku. selalu kubisikkan kalimat ini 'dia cuma ia, cuma ia, tak lebih' tiap kali kekangenannya mengusikku. dengan itu aku merasa aman. benarkah? ternyata aku salah.
        tapi rutinitasnya di telpon, omongannya yang acap sebagai sanjungan --kenapa dia menyanjung tanpa risi?-- membuatku acap bingung. dalam tiap percakapan, entah berapa kali dia memanggilku, 'ra, dara,' yang membuatku merasa begitu dekat, dan ketika telpon mati, aku langsung seperti lilin yang dipadamkan.
        dia, ia-ku, bukan percerita yang baik. ia cuma lancar. selalu ada yang dia bicarakan, hal-hal yang kecil, sedikit debat, dan ditutup, 'hati-hati, ya?' tak ada yang menarik --dia bahkan tampak lebih bergairah sendiri, sementara aku sibuk, kadang tersiksa di sini dengan kerepotan mengurusi si mbak dan adek, dan lucunya --atau ini yang membuatku juga asyik-- dia tak terganggu dengan itu. dia malah terganggu dengan tawaku, yang muncul justru karena tingkahnya di ujung horn sana.satu lagi, dia, ia-ku itu, ternyata amat pemalu. sering aku merasakan dia menggeragap di ujung sana, tiap kali aku memberinya tawa. dan bila kutanya, dengan ringan ia mengaku, "aku gugup, ra, nggak tahu kenapa?" dan aku makin tertawa, dia makin gugup, tangannya mengetuk-ngetuk meja, atau batuknya yang tiba-tiba datang, membuat sengau suaranya.
        "aku nggak tahu kenapa?" itu adalah kalimat yang paling sering ia ungkapkan, selain, "adakah semua soal punya jawab?", yang selalu membuatku merasa suka dengan lelaki ini. dan biasanya, kalau sudah begitu, aku tak pernah mampu memaksanya menjelaskan, lebih memilih diam, dan menikmati saja ceritanya yang lebih sebagai air bah. kadang membosankan juga, memang. tapi mau apalagi. rasa bosan itu --selalu kusembunyikan, sih-- malah membantuku untuk ingat, dia cuma ia, selalu ada jarak.
        tapi, sungguhkan hati mengenal jarak?
****
        "berapa usiamu ketika jatuh cinta, Von?"
        Vonny, temanku itu, agak kaget, lalu tersenyum. "kenapa? sedang jatuh cinta?" lalu kembali menekuri pekerjaanya.
        "kalau nggak salah, sih waktu smp aku sudah jatuh cinta, lalu sma, semasa kuliah beberapa kali, seterusnya, ah, aku tahu, cinta tak penting betul, hahha..." dia tetap menekuri pekerjaannya, tak memandangku.
        "kenapa?"
       dia menoleh. "ya, nggak penting." diambilnya secomot pisang goreng, mengunyah. "terlalu banyak yang perempuan korbankan jika sedang jatuh cinta."
       "masa, Von?"
       "sungguh!"
       "mungkin karena kamu nggak menikmatinya."
       "lho, kok kasusnya ditimpakan ke aku, hehehe.." dia mengigit gorengan lagi. "justru karena sangat menikmatinya, aku tahu betapa besarnya pengorbanan yang tanpa sengaja akan kita lakukan."
       "misalnya?"
       "kamu pernah jatuh cinta, nggak?"
       "pernah."
       "lha, kok malah tanya misal. coba kamu pikirkan, ingat, ketika kamu menikmatinya, apakah kamu tak melakukan sesuatu yang bodoh, yang sekarang ini tak akan mungkin kamu ulangi?" dia menatapku.
       aku tersenyum. tiba-tiba aku ingat ia. dan senyumku makin melebar, ketika dering ponselku memanggil. pasti dia, ia, batinku.
       "ada apa, ia? aduh!!" vonny melemparku dengan potongan gorengannya, dan kusambut dengan tawa. "hati-hati, ra..." kedipnya, sambil bergeser ke mejanya, menekuri kembali pekerjaannya.***