Wednesday, August 11, 2004

membaca rintihan dewi

        di beranda rumahnya, dewi masih bisa tersenyum, duduk bersandar dengan kaki yang disilangkan, dia memegang mik dan membenarkan satu hal: rumah tangganya memang berada di titik perceraian, seperti yang ramai dibicarakan.
        tak ada getar dalam suaranya, meski dia berbicara begitu pelan, seperti bisik untuk dirinya sendiri. di layar rcti senin sore kemarin, dewi memang tampak tabah. tapi lihatlah matanya, ya matanya, yang tak pernah mau menatap langsung ke kamera, adalah mata dengan kedukaan yang luar biasa. suaranya, yang tenang itu pun, tak mampu sempurna menyembunyikan desah, setiap kali dia menjawab pertanyaan.
        "Bagi saya ini bukan akhir kehidupan. ini hanya lakon baru saja," bisiknya, dengan senyum dan mata yang terus mengejap. dewi mungkin tengah menahan tangis.
        dewi tampaknya menyadari bahwa hidup tak akan pernah bisa berjalan lurus seperti yang dia rencanakan. "bisa saja hidup kita berubah dalam lima menit. suami, anak, itu semua milik allah. manusia tak bisa mengklaim memiliki manusia lain," katanya, sebagaimana dicatat Bintang.
        dan, hidup dewi memang berubah, meski tidak dalam waktu lima menit. karena itulah, dewi tidak tampak marah, atau memendam benci. ia berkata, lebih sebagai sikap pasrah, tapi bukan suara dari orang yang kalah.
        "rumah tanggaku dengan bang ray hanya berubah format saja. tidak ada yang luar biasa," ucapnya, pada "Kabar-kabari".
        apakah dewi terluka? tampaknya, iya. dan dia tidak berusaha untuk menutupi hal itu. dengan bijak, dia menjelaskan bahwa luka dalam rumah tangga itu hal biasa. "tidak ada rumah tangga tanpa rintihan. semua rumah tangga dengan rintihan," tuturnya, kali ini dengan bibir yang agak bergetar, seperti terlihat di layar kaca.
        barangkali bagi dewi, setiap rumah tangga menyimpan kesakitan sendiri-sendiri. dan kesakitan yang dia dapatkan kali ini, tak lagi mampu untuk dia pendam. meski, perceraian itu, seperti yang dia katakan dengan membuang napas, "bukan akhir kehidupan, hanya lakon baru saja."

        ******

        rintihan. perceraian. lakon baru. tiga kata itulah yang menghipnosaku. tiga kata yang lahir dari bibir yang nyimpan getar, dari dada yang ditahan untuk tak mendesakkan airmata. tapi, tiga kata itu sudah menunjukkan ngilu yang luar biasa. "sakit yang paling nyeri adalah ketika saat menanggungkannya kita sudah tak lagi mampu mengeluarkan airmata," kata seorang teman di suatu subuh tak bertanggal. ya. airmata memang penting. dia hadir bukan hanya sebagai tanda kesedihan, melainkan juga "mekanisme" untuk membuang beban. bukankah setiap tangis yang tumpah selalu membawa kelegaan?
        tapi, selain ngilu, tiga kata itu pun menunjukkan kepasrahan yang luar biasa. dalam "rintihan", dewi telah menunjukkan bahwa dia sudah berusaha menjalaninya, sudah mencoba untuk kuat, tabah. tapi, ketika dewi mengatakan, "semua rumah tangga dengan rintihan", agaknya dia mau memakzulkan bahwa yang dia alami bukan lagi hanya rintihan. sesuatu yang pasti lebih keras dari erang, mungkin jerit, atau pekikan. dan karena bukan lagi "rintihan" itulah, dewi ingin rumah tangganya diakhiri: perceraian.
        dan, kita pun dapat melihat kematangan dewi dengan kata akhir yang manis, lakon baru. kata ini menegaskan bahwa apa yang dia alami bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. lakon baru itu adalah anak yang lahir dari "sesuatu" yang bukan rintih, yang dibesarkan perceraian. lakon baru itu adalah garis, atau siklus hidup yang dia jalani sebagai kelanjutan dari peta hidup menuju sempurna. lakon baru adalah sesuatu yang harus ada setelah rintih, juga cerai. lakon baru adalah keberterimaan dewi atas keterbatasannya untuk tahu. lakon baru mungkin bukan sesuatu yang dia inginkan, meski telah dia sadari akan datang.
        "sebagai ayah, bang ray sangat baik. tetapi sebagai suami, ... dia membuat deg-degan. Abis ganteng sih, hahaha."
        apakah dewi pasrah? barangkali begitu. tapi, dalam pasrah sesungguhnya terkandung kehendak untuk menerima. dan sebuah kehendak pastilah selalu berupa sikap aktif. dan dengan itulah, kita tahu, bahwa rentetan hidup, lakon itu, bukan sesuatu yang tiba-tiba, tapi peta yang kita gariskan sendiri, barangkali dengan diam-diam, dan acap kita lupakan. dan ketika garis yang kita lupakan itu meminta untuk dijalani, kita acap kaget, tak siap, dan nangis. tapi dewi tidak menangis. dia tahu, sebuah lakon baru, adalah cerita lanjut agar hidupnya berjalan, nuju sempurna. dan lakon itu, tak perlu dibebani dengan air mata.