mari menempatkan bahagia
"........"
"bagaimana rasanya bahagia itu, biru?"
"wah, mana aku tahu. bagiku, bahagia itu sifatnya personal. jadi, yang kurasakan pasti berbeda dengan yang kamu rasakan."
"personal? eh, apa sih bahagia itu?"
"nah, itulah rumitnya, aku tak pernah mendefenisikan bahagia. jadi aku tidak tahu artinya. barangkali aku justru bahagia karena tidak pernah sibuk mencari-cari, apa itu bahagia."
"maksudmu?"
"daripada sibuk mendefenisikan bahagia, aku memilih cara yang lain: menempatkan bahagia itu di mana. jadi, aku bisa dengan gampang menamakan situasi yang sederhana sebagai bahagia."
"misalnya?"
"hujan-hujan begini, bercakap-cakap denganmu."
"hmm... terdengar indah. tapi apakah sungguh itu yang namanya bahagia?"
"mana aku tahu."
"lho?"
"kan sudah kubilang, ini sifatnya personal. yang terasa bagiku, belum tentu berdenyut padamu. aku menempatkan bahagia itu pada situasi yang temporal, kecil, sebentar: saat-saat ketakberhinggaan. jadi, bukan bagaimana aku mencarinya, tapi seperti apa aku menempatkannya. percaya deh, semakin kamu cari, bahagia itu akan kian tidak kamu temui. bukan karena dia tak ada, atau sulit ditemukan, melainkan karena dia tak berada di mana-mana."
"kok jadi rumit?"
"hahaha... jadi rumit kalau kamu masih mencari-cari. lupakan saja. tahu nggak, kalau kamu mencari sesuatu, biasanya kamu datangi tempat-tempat yang jauh, yang tersembunyi, yang sulit. padahal, kalau kamu "menempatkan" bahagia, kamu tak perlu ke mana-mana, tak perlu merasa memiliki apa-apa, tak harus berusaha menjadi apa-apa. bahagia itu --aduh, jadi kesannya mendefenisikan nih-- bukan sesuatu yang harus kamu lakukan untuk memenuhi hasrat orang lain."
"aku mulai mengerti. jadi, bahagia itu bisa bebas dari pemaknaan umum ya?"
"seharusnya begitu."
"kalau sekarang aku tiba-tiba keluar dan mandi hujan, apakah itu bisa dibilang bahagia?"
"lha, kamu bahagia, nggak?"
"barangkali aku akan senang. merasa bebas, merasa lepas. segar, apalagi kalau bisa bugil ya? hahaha.... eh, apakah ini bahagia?"
"kukira, kamu harus belajar mengatakan itu sebagai bahagia."
"jadi, intinya bagaimana mengatakan sesuatu itu sebagai bahagia ya?"
"nah, sudah pintar sekarang."
"waktu pertama kali aku punya hp, aku merasa senang. itu juga bahagia?"
"lha, kalau kamu menempatkanya begitu, ya iya?"
"tapi, kemudian aku merasa hp-ku ketinggalan zaman. aku jadi malu menggenggamnya. apakah bahagia itu tak abadi?"
"selain tergantung bagaimana kamu menempatkannya, bahagia itu juga tergantung di mana kamu menempatkannya. kalau pada kebendaan, itu bahagia yang meminta pemenuhan. nyaris sama dengan bahagia orang yang lapar, yang selesai sesaat ketika kenyang. lalu lapar lagi, kan? nah, kalau aku ya, kutempatkan dalam situasinya. bukan hp-nya, tapi situasi saat merasa punya. itulah situasi yang berbeda dari saat kamu belum punya hp. ayo, kamu kenang situasi itu, ceritakan padaku."
"aku tersenyum, sekarang. lucu, aku nyaris tak percaya, ayah akhirnya mau membelikan aku hp. aku sampai memeluk ayah, mencium tangannya. aneh, aku masih merasakan kesenangan itu sekarang. itu sudah 4 tahun lalu!"
"itulah. kalau kamu tempatkan pada situasi, ia akan abadi."
"makasih banget ya. gampang ternyata. aku sekarang jadi tahu bagaimana merasakan bahagia itu. eh, mau tahu nggak bahagia yang baru aku rasakan?"
"apa?"
"bercakap-cakap denganmu, ya, saat ini!"
"???!!"
<< Home