Wednesday, January 12, 2005

hidup yang tiada harap

        tadi pagi, non menikah.
        aku menerima kabar itu darinya, melalui sms yang tak bisa kuhindari. kepalaku tiba-tiba kosong. dan darah seperti tak mau mencapai jantungku. sesak, aku terengah-engah menggapai oksigen, menyanggakan badan di teralis jendela. mataku basah.
        kusadari tanganku masih menggenggan ponsel itu. dan layarnya, memintaku membaca kembali kalimat terakhirnya, "tidak biru, tidak ada yang salah. kau, aku, kita, juga dia, telah berusaha untuk setia. tapi kita bukan apa-apa lagi. dunia sudah tak seperti dulu. bukan apa-apa..."
        ya, barangkali, kita bukan apa-apa lagi. mungkin benar, ketika kau bicara, "dalam percintaan kita, apa yang paling penting ialah tiada harap." tapi pernikahanmu, non: bukan saja membakar harap, dia peta yang menulis jarak, kau dan aku tidak lagi di satu garis. semua lalu habis, jadi kenangan, juga tangis.
        dulu, ah, barangkali kamu telah lupa, aku memintamu untuk memberi cinta yang tak jadi hantu dalam mimpi malam. aku hanya ingin, suatu waktu, tubuh kita bersentuhan dalam girang pagi, hangat ruap kopi, dan menulis ringan janji: aku lelaki yang kau lihat di subuh pertama. aku lelaki, yang kau beri ciuman ketika kantuk telah reda, saat bibir masih masam. dan aku ingat, kau tertawa mendengarnya. "itu terlalu sederhana. aku bisa menciummu kapan saja, kapan saja." iya non, iya. kau memang bisa menciumku kapan saja. tapi kurasa, menjadi lelaki pertama yang kau lihat ketika susu-susu cahaya memasuki jendela, bukan soal yang sederhana. itu mimpiku, dan kini, selamanya akan tetap begitu. hhh...
        kini kepalaku dipenuhi bayanganmu dan lelakimu. dan aku tak pernah bisa tahu, sosok macam apa yang membuat mimpiku abadi. "jangan tanya siapa dia, biru. kau tak mengenalnya. dia datang ketika aku hanya bisa mengatakan 'ya'. dia tak mengambil apa pun yang pernah kamu miliki, yang pernah kita miliki."
        tapi, apa yang pernah sungguh kita miliki, non? persetubuhan yang tak pernah sempurna? basah ciuman yang tak kunjung sampai? atau rahimmu, yang dulu telah kau siapkan untuk calon anakku? noonn.., kini, kita hanya punya dulu, kita hanya memiliki janji.
        ya, tadi pagi non menikah, aku menggelepar kehabisan darah. dan mencintainya, kini terasa bukan sesuatu yang sia-sia. ia telah menanamkan sesuatu yang abadi, kesakitan-kesakitan ini. air mata kesunyian ini. napas yang menetes di ujung jariku ini....


(versi singkat, dengan kutipan ingatan atas beberapa kosa-kata gm)