Wednesday, March 09, 2005

umar bin khatab dan maaf

        12 tahun yang lalu, sebelum berangkat ke jawa, ibu memanggilku. "ia, duduklah sebentar. ada yang ingin ibu katakan."
        aku pun duduk di atas dingklik kecil, sehingga pundakku bisa menyandar ke rosbang yang diduduki ibu. ini memang kebiasaan kami, duduk dalam posisi itu, nyaris setiap hari minggu. sebabnya, mulai masuk sma, ibu menemukan beberapa uban di kepalaku. dan jadilah minggu sebagai rutinitas ibu membusai kepalaku, mencari uban, yang meskipun di dapat, tapi tak lebih dari tiga helai saja.
        "kamu masih ingat cerita umar bin khatab?" ibu mulai membuka percakapan.
        aku mengangguk, sehingga kurasakan rambutku sedikit tertarik dari genggaman ibu.
        "bagian mana yang kamu ingat?"
        "perjuangannya, bu. rasanya, dialah salah seorang sahabat nabi yang paling siap berjuang dan berkorban demi islam."
        ibu diam sebentar, hanya telisikan jarinya di peta kepalaku yang masih kurasakan bekerja. "kamu ingat masa lalu umar? sebelum ia masuk islam?"
        aku tertawa. "tak satu pun aku lupa. kenapa, bu?"
        "tapi, setiap kali kamu ditanya tentang umar bin khatab, bagian mana yang selalu kamu ingat?"
        "ya perjuangannya untuk kebesaran islam, bu?"
        "kenapa?"
        "ya karena itu yang duluan aku ingat."
        "iya... tapi kenapa bagian itu? kenapa tidak bagian dari masa lalunya yang kamu ingat? kekejamannya? nalurinya yang selalu siap untuk membunuh?"
        "iya ya? kira-kira kenapa, bu?"
        "kamu ini, ditanya malah nanya?" ibu menekan kepalaku, membuat nyengirku kian lebar. dan seperti biasa, ibu akan selalu punya jawaban atas pertanyaan yang dia ungkapkan sendiri. "ia, ibu juga selalu bertanya, kenapa kita bisa begitu lupa pada masa lalu umar sebelum islam? kita ingat, tapi masa lalunya yang luar biasa kelam itu tak meninggalkan kesakitan meski kita mengingatnya. umar bahkan jadi contoh baik tentang sosok yang bisa lepas dari kekejaman jahiliyah. kamu tahu perkiraan, ibu?"
        aku menggeleng.
        "huh! kamu ini gampang sekali menggeleng, tidak pernah berusaha memikirkan jawaban," kembali rambutku ditarik ibu, tapi aku diam saja. "barangkali, umar jadi semacan contoh bagaimana seharusnya kita memandang seseorang. bahwa manusia selalu bisa berubah. bahwa kita harus terbiasa memandang orang dengan kemungkinan dia untuk dapat bergerak, ke arah yang lebih baik. dan masa lalu tak akan pernah bisa kita jadikan ukuran untuk menilai masa depan seseorang. kamu mengerti?"
        aku mengangguk.
        "bagian mana yang kamu mengerti?"
        ha? duh! aku gelagapan...
        "maksud ibu, ia: nanti kamu akan memiliki pergaulan yang lebih luas di jawa. dan jika dalam pergaulan itu, kamu melihat dan menemukan, atau terlibat dalam kesalahan seseorang, janganlah kamu cepat menilainya, atau menjadikan kesalahan itu sebagai keseluruhan dirinya. ingat anakku, setiap kali seseorang meminta maaf kepadamu, jadikanlah semua kesalahannya sebagai bagian dari masa lalu. setiap kali ada yang meminta maaf padamu, ingatlah pada umar, ingatlah pada ibu. kau mengerti?"
        aku mengangguk. kali ini sungguh-sungguh mengerti.

        Dua hari setelah itu aku berangkat ke jawa. dan ketika pamitan, di antara pelukan yang dibasahi airmata, ibu masih menyempatkan membisikkan fatwa: "ia, jagalah dirimu ketika kamu sedang marah atau kecewa ya? karena dalam posisi itulah kualitas diri kamu mendapatkan ujian." aku mencium tangan ibu, dan kemudian berlalu....